Sebagian para ahli seperti Stephen P. Robbins, Gary Dessler (1992) dalam bukunya yang berjudul “Organizational Theory” (1990), memasukan budaya organisasi kedalam teori organisasi. Sementara
Budaya perusahaan merupakan aplikasi dari budaya organisasi dan apabila
diterapkan dilingkungan manajemen akan melahirkan budaya manajemen.
Budaya organisasi dengan budaya perusahan sering disalingtukarkan
sehingga terkadang dianggap sama, padahal berbeda dalam penerapannya.
Kita tinjau Pengertian budaya itu sendiri menurut : “The International Encyclopedia of the Social Science” (1972) dpat dilihat menurut dua pendekatan yaitu pendekatan proses (process-pattern theory, culture pattern as basic) didukung oleh Franz Boas (1858-1942) dan Alfred Louis Kroeber (1876-1960). Bisa juga melalui pendekatan structural-fungsional (structural-functional theory, social structure as abasic) yang dikembangkan oleh Bonislaw Mallllinowski (1884-1942) dan Radclife-Brown yang kemudians dari dua pendekatan itu Edward Burnett Tylor (1832-1917 secara luas mendefinisikan budaya sebagai :”…culture
or civilization, taken in its wide ethnographic ense, is that complex
whole wich includes knowledge,belief, art, morals, law, custom and any
other capabilities and habits acquired by man as a memmmber of society” atau Budaya juga dapat diartikan sebagai : “Seluruh
sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya melalui proses
belajar(Koentjaraningrat, 2001: 72 ) sesuai dengan kekhasan etnik, profesi dan kedaerahan”(Danim, 2003:148).
Akan
tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita lebih memahami budaya dari
sudut sosiologi dan ilmu budaya, padahal ternyata ilmu budaya bisa
mempengaruhi terhadap perkembangan ilmu lainnya seperti ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga ada beberapa istilah lain dari istilah budaya seperti budaya organisasi (organization culture) atau budaya kerja (work culture) ataupun biasa lebih dikenal lebih spesifik lagi dengan istilah budaya perusahaan (corporate culture). Sedangkan dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah kultur pembelajaran sekolah (school learning culture) atau Kultur akademis (Academic culture)
Dalam dunia pendidikan mengistilahkan budaya organisasi dengan istilah Kultur
akademis yang pada intinya mengatur para pendidik agar mereka memahami
bagaimana seharusnya bersikap terhadap profesinya, beradaptasi terhadap
rekan kerja dan lingkungan kerjanya serta berlaku reaktif terhadap
kebijakan pimpinannya, sehingga terbentuklah sebuah sistem nilai,
kebiasaan (habits), citra akademis, ethos kerja
yang terinternalisasikan dalam kehidupannya sehingga mendorong adanya
apresiasi dirinya terhadap peningkatan prestasi kerja baik terbentuk
oleh lingkungan organisasi itu sendiri maupun dikuatkan secara
organisatoris oleh pimpinan akademis yang mengeluarkan sebuah kebijakan yang diterima ketika seseorang masuk organisasi tersebut.
Fungsi pimpinan sebagai pembentuk Kultur akademis diungkapkan oleh Peter, Dobin dan Johnson (1996) bahwa :
Para pimpinan sekolah khususnya dalam kapasitasnya menjalankan fungsinya sangat berperan penting dalam dua hal yaitu : a). Mengkonsepsitualisasikan
visi dan perubahan dan b). Memiliki pengetahuan, keterampilan dan
pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan kultur
akademis kedalam aksi riil (Danim, Ibid., P.74).
Jadi
terbentuknya Kultur akademis bisa dicapai melalui proses tranformasi
dan perubahan tersebut sebagai metamorfosis institusi akademis menuju
kultur akademis yang ideal. Budaya itu sendiri masuk dan
terbentuk dalam pribadi seorang dosen itu melalui adanya adaptasi dengan
lingkungan, pembiasaan tatanan yang sudah ada dalam etika pendidikan
ataupun dengan membawa sistem nilai sebelumnya yang kemudian masuk dan
diterima oleh institusi tersebut yang akhirnya terbentuklah sebuah
budaya akademis dalam sebuah organisasi.
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk sebuah pola prilaku dalam hal ini Ferdinand Tonnies membagi kebiasaan kedalam beberapa pengertian antara lain :
a) Kebiasaan
sebagai suatu kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah
kelajiman baik dalam sikap maupun dalam penampilan sehari-hari. Seorang pendidik sebagai profesionalis biasa berpenampilan rapi, berdasi
dan berkemeja dan bersikap formal, sangat lain dengan melihat
penampilan dosen institut seni yang melawan patokan formal yang berlaku
didunia pendidikan dengan berpakaian kaos dan berambut panjang.
b) Kebiasaan
sebagai Kaidah yang diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang
lahir dari diri pendidik itu sendiri yang kemudian menjadi ciri khas
yang membedakan dengan yang lainnya.
c) Kebiasaan
sebagai perwujudan kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang
lahir dari motivasi dan inisatif yang mencerminkan adanya prestasi
pribadi.
( Soekanto, loc.cit, P. 174)
Pengertian budaya yang penulis teliti lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan sikap dosen dalam menyikapi pekerjaannya (profesionality), rekan kerjanya, kepemimpinan dan peningkatan karakter internal (maturity character) terhadap lembaganya baik dilihat dari sudut psikologis maupun sudut biologis seseorang. Dimana
budaya akademis secara aplikatif dapat dilihat ketika para anggota
civitas akademika sudah mempraktikan seluruh nilai dan sistem yang
berlaku di perguruan tinggi dalam pribadinya secara konsisten.
Budaya dan kepribadian
Oleh
karena budaya secara individu itu berkorelasi dengan kepribadian,
sehingga budaya berhubungan dengan pola prilaku seseorang ketika
berhadapan dengan sebuah masalah hidup dan sikap terhadap pekerjaanya.
Didalamnya ada sikap reaktif seorang pendidik terhadap perubahan kebijakan pemerintah dalam otonomi kampus sebagaimana yang terjadi,
dimana dengan adanya komersialisasi kampus bisakah berpengaruh terhadap
perubahan kultur akademis penididik dalam sehari-harinya.
Dilihat
dari unsur perbedaan budaya juga menyangkut ciri khas yang membedakan
antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun yang
membedakaan antara profesi yang satu dengan profesi yang lain. Seperti
perbedaan budaya seorang dokter dengan seorang dosen, seorang akuntan
dengan seorang spesialis, seorang professional dengan seorang amatiran.
Ciri
khas ini bisa diambil dari hasil internalisasi individu dalam
organisasi ataupun juga sebagai hasil adopsi dari organisasi yang
mempengaruhi pencitraan sehingga dianggap sebagai kultur sendiri yang
ternyata pengertiannya masih relatif dan bersifat abstrak. Kita lihat
pengertian budaya yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto mendefinisikan budaya sebagai : “Sebuah
system nilai yang dianut seseorang pendukung budaya tersebut yang
mencakup konsepsi abstrak tentang baik dan buruk. atau secara institusi
nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang diadopsi dari organisasi
lain baik melalui reinventing maupun re-organizing”(Ibid, Soerjono Soekanto, P. 174)
Budaya
juga tercipta karena adanya adopsi dari organisasi lainnya baik nilai,
jargon, visi dan misi maupun pola hidup dan citra organisasi yang
dimanefestasikan oleh anggotanya. Seorang pendidik sebagai pelaku
organisasi jelas berperan sangat penting dalam pencitraan kampus jauh
lebih cepat karena secara langsung berhadapan dengan mahasiswa yang
bertindak sebagai promotor pencitraan di masyarakat sementara nilai
pencitraan sebuah organisasi diambil melalui adanya pembaharuan maupun pola reduksi langsung dari organisasi sejenis yang berpengaruh dalam dunia pendidikan.
Sebuah
nilai budaya yang merupakan sebuah sistem bisa menjadi sebuah asumsi
dasar sebuah organisasi untuk bergerak didalam meningkatkan sebuah
kinerjanya yang salah satunya terbentuknya budaya yang kuat yang bisa
mempengaruhi. McKenna dan Beech berpendapat bahwa : „Budaya yang kuat mendasari aspek kunci pelaksaan fungsi organisasi dalam
hal efisiensi, inovasi, kualitas serta mendukung reaksi yang tepat
untuk membiasakan mereka terhadap kejadian-kejadian, karena etos yang
berlaku mengakomodasikan ketahanan“( McKenna, etal, Terj. Toto Budi Santoso , 2002: 19)
Sedang menurut Talizuduhu Ndraha mengungkapkan bahwa “Budaya
kuat juga bisa dimaknakan sebagai budaya yang dipegang secara intensif,
secara luas dianut dan semakin jelas disosialisasikan dan diwariskan
dan berpengaruh terhadap lingkungan dan prilaku manusia”( Ndraha, 2003:123).
Budaya
yang kuat akan mendukung terciptanya sebuah prestasi yang positif bagi
anggotanya dalam hal ini budaya yang diinternalisasikan pihak pimpinan
akan berpengaruh terhadap sistem prilaku para pendidik dan staf
dibawahnya baik didalam organisasi maupun diluar organisasi.
Sekali lagi kalau Budaya hanya sebuah asumsi penting yang terkadang jarang diungkapkan secara resmi tetapi sudah teradopsi dari masukan internal anggota organisasi lainnya. Vijay Sathe mendefinisikan budaya sebagai “The sets of important assumption (opten unstated) that member of a community share in common” ( Sathe, 1985: 18) Begitu
juga budaya sebagai sebuah asumsi dasar dalam pembentukan karakter
individu baik dalam beradaptasi keluar maupun berintegrasi kedalam
organisasi lebih luas diungkapkan oleh Edgar H. Schein bahwa budaya bisa didefinisikan sebagai :
“A
pattern of share basic assumption that the group learner as it solved
its problems of external adaptation anda internal integration, that has
worked well enough to be considered valid and therefore, to be taught to
new members as the correct way to perceive, think and feel in relation
to these problems”.
( Schein, 1992:16)
( Schein, 1992:16)
Secara lengkap Budaya bisa merupakan nilai, konsep, kebiasaan, perasaan yang diambil dari asumsi
dasar sebuah organiasasi yang kemudian diinternalisasikan oleh
anggotanya. Bisa berupa prilaku langsung apabila menghadapi permasalahan
maupun berupa karakter khas yang merupakan sebuah citra akademik yang
bisa mendukung rasa bangga terhadap profesi dirinya sebagai dosen,
perasaan memiliki dan ikut menerapkan seluruh kebijakan pimpinan dalam
pola komunikasi dengan lingkungannya internal dan eksternal belajar.
Lingkungan pembelajaran itu sendiri mendukung terhadap pencitraan diluar
organisasi, sehingga dapat terlihat sebuah budaya akan mempengaruhi
terhadap maju mundurnya sebuah organisasi. Seorang
professional yang berkarakter dan kuat kulturnya akan meningkatkan
kinerjanya dalam organisasi dan secara sekaligus meningkatkan citra
dirinya.
Organisasi dan budaya
Membahas budaya, jelas
tidak bisa lepas dari pengertian organisasi itu sendiri dan dapat kita
lihat beberapa pendapat tentang organisasi yang salah satunya
diungkapkan Stephen P. Robbins yang mendefinisikan organisasi sebagai “…A
consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable
boundary that function or relatively continous basis to achieve a common
goal or set of goal”. ( Robbins, 1990: 4) Sedangkan Waren B. Brown dan Dennis J. Moberg mendefinisikan organisasi sebagai “…. A relatively permanent social entities characterized by goal oriented behavior, specialization and structure”(Brown,etal,1980:6) Begitu juga pendapat dari Chester I. Bernard dari kutipan Etzioni dimana organisasi diartikan sebagai “Cooperation of two or more persons, a system of conciously coordinated personell activities or forces”( Etzioni, 1961:14.)
Sehingga organisasi diatas pada dasarnya apabila dilihat dari bentuknya, organisasi merupakan sebuah masukan (input) dan luaran (output) serta bisa juga dilihat sebagai living organism yang memiliki tubuh dan kepribadian, sehingga terkadang sebuah organisasi bisa dalam kondisi sakit (when an organization gets sick). Sehingga organisasi dianggap Sebagai suatu output (luaran) memiliki sebuah struktur (aspek anatomic), pola kehidupan (aspek fisiologis) dan system budaya (aspek kultur) yang berlaku dan ditaati oleh anggotanya.
Dari pengertian Organisasi sebagai output (luaran) inilah melahirkan istilah budaya organisasi atau budaya kerja ataupun lebih dikenal didunia pendidikan sebagai budaya
akademis. Untuk lebih menyesuaikan dengan spesifikasi penelitian
penulis mengistilahkan budaya organisasi dengan istilah budaya akademis.
Menurut Umar Nimran mendefinisikan budaya organisasi sebagai “Suatu sistem makna yang dimiliki bersama oleh suatu organisasi yang membedakannya dengan organisasi lain”(Umar Nimran, 1996: 11)
Sedangkan Griffin dan Ebbert (Ibid, 1996:11) dari kutipan Umar Nimran Budaya organisasi atau bisa diartikan sebagai “Pengalaman, sejarah, keyakinan dan norma-norma bersama yang menjadi ciri perusahaan/organisasi” Sementara Taliziduhu Ndraha Mengartikan Budaya organisasi sebagai “Potret atau rekaman hasil proses budaya yang berlangsung dalam suatu organisasi atau perusahaan pada saat ini”( op.cit , Ndraha, P. 102) Lebih luas lagi definisi yang diungkapkan oleh Piti Sithi-Amnuai (1989) dalam bukunya “How to built a corporate culture” mengartikan budaya organisasi sebagai :
A
set of basic assumption and beliefs that are shared by members of an
organization, being developed as they learn to cope with problems of
external adaptation and internal integration.( Pithi Amnuai dari kutipan Ndraha, p.102)
(Seperangkat
asumsi dan keyakinan dasar yang dterima anggota dari sebuah organisasi
yang dikembangkan melalui proses belajar dari masalah penyesuaian dari
luar dan integarasi dari dalam)
Hal yang sama diungkapkan oleh Edgar H. Schein (1992) dalam bukunya “Organizational Culture and Leadershif” mangartikan budaya organisasi lebih luas sebagai :
“
…A patern of shared basic assumptions that the group learned as it
solved its problems of external adaptation and internal integration,
that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be
taught to new members as the correct way to perceive, think and feel in
relation to these problems.( loc.cit, Schein, P.16)
(“…
Suatu pola sumsi dasar yang ditemukan, digali dan dikembangkan oleh
sekelompok orang sebagai pengalaman memecahkan permasalahan, penyesuaian
terhadap faktor ekstern maupun integrasi intern yang berjalan dengan
penuh makna, sehingga perlu untuk diajarkan kepada para anggota baru
agar mereka mempunyai persepsi, pemikiran maupun perasaan yang tepat
dalam mengahdapi problema organisasi tersebut).
Sedangkan menurut Moorhead dan Griffin (1992) budaya organisasi diartikan sebagai :
Seperangkat
nilai yang diterima selalu benar, yang membantu seseorang dalam
organisasi untuk memahami tindakan-tindakan mana yang dapat diterima dan
tindakan mana yang tidak dapat diterima dan nilai-nilai tersebut
dikomunikasikan melalui cerita dan cara-cara simbolis lainnya(McKenna,etal, op.cit P.63).
Amnuai
(1989) membatasi pengertian budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar
dan keyakinan yang dianut oleh anggota sebuah organisasi dari hasil
proses belajar adaptasi terhadap permasalahan ekternal dan integrasi
permasalahan internal.
Organisasi memiliki kultur melalui proses belajar, pewarisan, hasil adaptasi dan pembuktian terhadap nilai yang dianut atau diistilahkan Schein (1992) dengan considered valid yaitu nilai yang terbukti manfaatnya. selain itu juga bisa melalui sikap kepemimpinan sebagai teaching by example atau menurut Amnuai (1989) sebagai “through the leader him or herself” yaitu pendirian, sikap dan prilaku nyata bukan sekedar ucapan, pesona ataupun kharisma.
Dari
pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa budaya organisasi diartikan
sebagai kristalisasi dari nilai-nilai serta merupakan kepercayaan maupun
harapan bersama para anggota organisasi dalam hal ini
dosen di STIMIK Bani Saleh yang diajarkan dari generasi yang satu
kegenerasi yang lain dimana didalamnya ada perumusan norma yang
disepakati para anggota organisasi, mempunyai asumsi, persepsi atau pandangan yang sama dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam organisasi.
Hal-hal yang mempengaruhi budaya organisasi
Menurut Piti Sithi-Amnuai bahwa : “being developed as they learn to cope with problems of external adaptation anda internal integration (Pembentukan
budaya organisasi terjadi tatkala anggota organisasi belajar menghadapi
masalah, baik masalah-masalah yang menyangkut perubahan eksternal
maupun masalah internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan
organisasi).( Opcit Ndraha, P.76).
Pembentukan budaya akademisi dalam organisasi diawali oleh para pendiri (founder) institusi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Seseorang mempunyai gagasan untuk mendirikan organisasi.
2. Ia menggali dan mengarahkan sumber-sumber baik orang yang sepaham dan setujuan dengan dia (SDM), biaya dan teknologi.
3. Mereka meletakan dasar organisasi berupa susunan organisasi dan tata kerja.
Menurut Vijay Sathe dengan melihat asumsi dasar yang diterapkan dalam suatu organisasi yang membagi “Sharing Assumption”( loc.cit Vijay Sathe, p. 18) Sharing berarti berbagi nilai yang sama atau nilai yang sama dianut oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Asumsi nilai yang berlaku sama ini dianggap sebagai faktor-faktor yang membentuk budaya organisasi yang dapat dibagi menjadi :
a). Share thing, misalnya pakaian seragam seperti pakaian Korpri untuk PNS, batik PGRI yang menjadi ciri khas organisasi tersebut.
b). Share saying, misalnya ungkapan-ungkapan bersayap, ungkapan slogan, pemeo seprti didunia pendidikan terdapat istilah Tut wuri handayani, Baldatun thoyibatun wa robbun ghoffur diperguruan muhammadiyah.
c). Share doing,
misalnya pertemuan, kerja bakti, kegiatan sosial sebagai bentuk
aktifitas rutin yang menjadi ciri khas suatu organisasi seperti istilah
mapalus di Sulawesi, nguopin di Bali.
d). Share feeling, turut bela sungkawa, aniversary, ucapan selamat, acara wisuda mahasiswa dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut pendapat dari Dr. Bennet Silalahi bahwa budaya organisasi harus diarahkan pada penciptaan nilai (Values) yang pada intinya faktor yang terkandung dalam budaya organisasi.( Silalahi,2004:8) harus mencakup faktor-faktor antara lain : Keyakinan, Nilai, Norma, Gaya, Kredo dan Keyakinan terhadap kemampuan pekerja
Untuk
mewujudkan tertanamnya budaya organisasi tersebut harus didahului oleh
adanya integrasi atau kesatuan pandangan barulah pendekatan manajerial (Bennet, loc.cit, p.43)
bisa dilaksanakan antara lain berupa :
a) Menciptakan bahasa yang sama dan warna konsep yang muncul.
b) Menentukan batas-batas antar kelompok.
c) Distribusi wewenang dan status.
d) Mengembangkan syariat, tharekat dan ma’rifat yang mendukung norma kebersamaan.
e) Menentukan imbalan dan ganjaran
f) Menjelaskan perbedaan agama dan ideologi.
Selain share assumption dari Sathe, faktor value dan integrasi dari Bennet ada beberapa faktor pembentuk budaya organisasi lainnya dari hasil penelitian David Drennan selama sepuluh tahun telah ditemukan dua belas faktor pembentuk budaya organisasi /perusahaan/budaya kerja/budaya akdemis ( Republika, 27 Juli 1994:8) yaitu :
1) Pengaruh dari pimpinan /pihak yayasan yang dominan
2) Sejarah dan tradisi organisasi yang cukup lama.
3) Teknologi, produksi dan jasa
4) Industri dan kompetisinya/ persaingan antar perguruan tinggi.
5) Pelanggan/stakehoulder akademis
6) Harapan perusahaan/organisasi
7) Sistem informasi dan kontrol
8) Peraturan dan lingkungan perusahaan
9) Prosedur dan kebijakan
10) Sistem imbalan dan pengukuran
11) Organisasi dan sumber daya
12) Tujuan, nilai dan motto.
Budaya dengan profesionalisme
Dalam
perkembangan berikutnya dapat kita lihat ada keterkaitan antara budaya
dengan disain organisasi atau hubungan budaya dengan keberhasilan suatu
perguruan tinggi sesuai dengan design culture yang akan diterapkan. Untuk memahami disain organisasi tersebut, Harrison ( McKenna, etal, 2002: 65) membagi empat tipe budaya organisasi :
1. Budaya kekuasaan (Power culture).
Budaya
ini lebih mempokuskan sejumlah kecil pimpinan menggunakan kekuasaan
yang lebih banyak dalam cara memerintah. Budaya kekuasaan juga
dibutuhkan dengan syarat mengikuti esepsi dan keinginan anggota suatu
organisasi.
Seorang
dosen, seorang guru dan seorang karyawan butuh adanya peraturan dan
pemimpin yang tegas dan benar dalam menetapkan seluruh perintah dan
kebijakannya. Kerena hal ini menyangkut kepercayaan dan sikap mental tegas untuk memajukan institusi organisasi.
Kelajiman diinstitusi pendidikan yang masih meenganut manajemen
keluarga, peranan pemilik institusi begitu dominan dalam pengendalian
sebuah kebijakan institusi akademis, terkadang melupakan nilai
profesionalisme yang justru hal inilah salah satu penyebab jatuh dan
mundurnya sebuah perguruan tinggi.
2. Budaya peran (Role culture)
Budaya
ini ada kaitannya dengan prosedur birokratis, seperti peraturan
organisasi dan peran/jabatan/posisi spesifik yang jelas karena diyakini
bahwa hal ini akan mengastabilkan sistem. Keyakinan dan asumsi dasar
tentang kejelasan status/posisi/peranan yang jelas inilah
akan mendorong terbentuknya budaya positif yang jelas akan membantu
mengstabilkan suatu organisasi. Bagi seorang dosen tetap jauh
lebih cepat menerima seluruh kebijakan akademis daripada dosen terbang
yang hanya sewaktu-waktu hadir sesuai dengan jadwal perkuliahan. Hampir semua orang menginginkan suatu peranan dan status yang jelas dalam organisasi.
Bentuk
budaya ini kalau diterapkan dalam budaya akademis dapat dilihat dari
sejauhmana peran dosen dalam merancang, merencanakan dan memberikan
masukan (input) terhadap pembentukan suatu nilai budaya kerja tanpa
adanya birokarasi dari pihak pimpinan. Jelas masukan dari bawah lebih
independen dan dapat diterima karena sudah menyangkut masalah personal
dan bisa didukung oleh berbagai pihak melalui adanya perjanjian
psikologis antara pimpinan dengan dosen yang dibawahnya. Budaya peran
yang diberdayakan secara jelas juga akan membentuk terciptanya
profesionalisme kerja seorang dosen dan rasa memiliki yang kuat terhadap
peran sosialnya di kampus serta aktifitasnya diluar keegiatan akademis
dan kegiatan penelitian.
3. Budaya pendukung (Support culture)
Budaya
dimana didalamnya ada kelompok atau komunitas yang mendukung seseorang
yang mengusahakan terjadinya integrasi dan seperangkat nilai bersama
dalam organisasi tersebut. Selain
budaya peran dalam menginternalisasikan suatu budaya perlu adanya
budaya pendukung yang disesuaikan dengan kredo dan keyakinan anggota
dibawah. Budaya pendukung telah ditentukan oleh pihak pimpinan ketika
organisasi/institusi tersebut didirikan oleh pendirinya yang dituangkan
dalam visi dan misi organisasi tersebut. Jelas
didalamnya ada keselaran antara struktur, strategi dan budaya itu
sendiri. Dan suatu waktu bisa terjadi adanya perubahan dengan menanamkan
budaya untuk belajar terus menerus (longlife education)
4. Budaya prestasi (Achievement culture)
Budaya
yang didasarkan pada dorongan individu dalam organisasi dalam suasana
yang mendorong eksepsi diri dan usaha keras untuk adanya independensi
dan tekananya ada pada keberhasilan dan prestasi kerja. Budaya
ini sudah berlaku dikalangan akademisi tentang independensi dalam
pengajaran, penelitian dan pengabdian serta dengan pemberlakuan otonomi
kampus yang lebih menekankan terciptanya tenaga akademisi yang
profesional, mandiri dan berprestasi dalam melaksanakan tugasnya.
Dari
empat tipe budaya diatas cukup mengena dalam kaitannya dengan pengaruh
budaya terhadap kinerja seorang dosen dapat dilihat dari budaya prestasi
atau lebih tepat sebagai bentuk profesionalisme seorang dosen dalam
perannya, dimana Handi (1985) menyebutnya dengan istilah budaya pribadi (person culture)
Istilah profesionalisme dalam dunia kependidikan bukanlah hal yang baru. Penulis beranggapan bahwa profesionalisme itulah sebagian dari apilikasi budaya organisasi secara person culture dalam hal ini dapat dilihat dari karakter dosen dalam mengaplikasikan budaya akademis yang sudah disampaikan oleh pihak institusi kampus.
Istilah profesionalisme dalam dunia kependidikan bukanlah hal yang baru. Penulis beranggapan bahwa profesionalisme itulah sebagian dari apilikasi budaya organisasi secara person culture dalam hal ini dapat dilihat dari karakter dosen dalam mengaplikasikan budaya akademis yang sudah disampaikan oleh pihak institusi kampus.
Dalam rangka peningkatan culture akademis dan profesionalisme kerja perlu adanya pengelolaan dosen (Sufyarma, 2004:.183). antara lain :
a) Meningkatkan
kualitas komitmen dosen terhadap pengembangan ilmu yang sejalan dengan
tugas pendidikan dan pengabdian pada masyarakat.
b) Menumbuhkan budaya akademik yang kondusif untuk meningkatkan aktifitas intelektual.
c) Mengusahakan pendidikan lanjut dan program pengembangan lain yang sesuai dengan prioritas program studi.
d) Menata
ulang penempatan dosen yang sesuai dengan keahlian yang dimilikinya
agar profesionalisme dan efisiensi dapat ditingkatkan.
e) Melakukan pemutakhiran pengetahuan dosen secara terus menerus dan berkesinambungan.
Sehingga perguruan tinggi harus dikelola dengan professional memiliki dua faktor sebagai bentuk penerapan budaya akademis yang kuat yaitu :
1. Profesional personal.
Adapun profesional personal ini memiliki karakteristik antara lain :
a) Bangga atas pekerjaannya sebagai dosen dengan komitmen pribadi yang kuat atas kreatifitas.
b) Memiliki tanggungjawab yang besar, antisipatif dan penuh inisatif.
c) Ingin selalu mengerjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai tugas diluar yang ditugaskan kepadanya.
d) Ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
e) Mendengarkan kebutuhan mahasiswa dan dapat bekerja denga baik dalam tim.
f) Dapat dipercaya, jujur, terus terang dan loyal.
g) Terbuka terhadap kritik yang bersifat konstruktif serta siap untuk meningkatkan dan menyempurnakan dirinya.
2. Professional institusional.
Adapun karakteristik profesional institusional dapat dilihat dalam karakteristik sebagai berikut :
a) Perkuliahan berjalan lancar, dinamis dan dialogis.
b) Masa studi mahasiswa tidak lama dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan memperoleh indeks prestasi yang tinggi.
c) Minat masyarakat yang memasuki perguruan tuinggi adalah besar, karena perguruan tinggi yang bersangkutan adalah legitimate dan credible.
d) Memiliki staf pengajar yang telah lulus studi lanjut (S2 dan S3) dan
e) Aktif dalam Pertemuan ilmiah serta produktif dalam karya ilmiah.
f) Pengelolaan perguruan tinggi yang memiliki visi yang jauh kedepan, otonom, fleksible serta birokrasi yang singkat dan jelas.
g) Program perguruan tinggi, baik akademik maupun administratif harus disusun secara sistematis, sistemik dan berkelanjutan.
h) Kampus harus dibenahi secara bersih, hijau dan sejuk.
i). Alumni perguruan tinggi harus mampu bersaing secara kompetitif, baik secaranasional maupun global.
Sedangkan Mahfud MD
(1998:4) antara lain menunjukan beberapa karakteristik budaya akademis
yang berpengaruh terhadap profesionalisme dosen sebagai berikut :
1) Bangga atas pekerjaannya sebagai dosen dengan komitmen pribadi yang kuat dan berkualitas.
2). Memiliki tanggungjawab yang besar, antisipatif dan penuh inisiatif.
3). Ingin selalu menegrjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai peran diluar pekerjaannya.
4) Ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
5). Mendengar kebutuhan pelanggan dan dapat bekerja dengan baik dalam suatu tim.
6). Dapat dipercaya, jujur, terus terang dan loyal.
7) Terbuka terhadap kritik yang bersifat konstruktif serta selalu siap untuk meningkatkan dan menyempurnakan dirinya.
Selain itu kita lihat ada lima diskursus professional ( Danim, 2003:.126-127) yang berbeda diseputar profesionalisme keguruan yaitu antara lain :
1) Profesionalisme material (Material professionalism)
merujuk pada kemampuan professional guru atau tenaga pengembang lain
dilihat dari prespektif penguasaan material bahan ajar yang harus
ditransformasikan dikelas ataupun diluar kelas.
2) Profesionalime metodologikal (Methodological professionalism) merujuk pada penguasaan metode dan strategi serta seni mendidik dan mengajar sehingga memudahkan proses belajar mengajar.
3) Profesionalisme sosial (Social professionalism)
merujuk pada kedudukan guru dan tenaga pengembang lain sebagai manusia
biasa dan sebagai anggota masyarakat dengan tidak kehilangan identitas
budaya sebagai pendidik oleh karena bisa diajdikan contoh dan referensi
prilaku dalam kehidupan masyarakat.
4) Profesionalisme demokratis (democratic professionalism)
merujuk pada tugas pokok dan fungsi yang ditampilkan oleh guru dan
tenaga pengembang lainnya harus beranjak dari, oleh dan untuk peserta
didiknya sehingga mencerminkan miniature demokrasi masyarakat.
5) Profesionalisme manajerial (managerial professionalism)
merujuk pada kedudukan guru bukanlah orang yang secara serta merta
mentransmisikan bahan ajar saja tapi juga bertindak sebagai direktur,
manajer atau fasilaitastor belajar.
Karakteristik budaya organisasi.
Untuk
menentukan indikator secara pasti mengenai budaya organisasi jauh lebih
sulit tetapi penulis mengambil dari beberapa pendapat para ahli
mengenai indikator yang menentukan budaya organisasi.
Khun Chin Sophonpanich memasukan budaya pribadi ke dalam Bank Bangkok 50 tahun yang lalu dengan beberapa indikator antara lain :
a). Ketekunan (dilligency),
b). Ketulusan (sincerity),
c). Kesabaran (patience) dan
d). Kewirausahaan (entrepreneurship).
Sedangkan Amnuai dan Schien membagi budaya organisasi kedalam beberapa indikator yaitu antara lain
a). Aspek kualitatif (basic)
b). Aspek kuantitatif (shared) dan aspek terbentuknya
c).. Aspek komponen (assumption dan beliefs),
d). Aspek adaptasi eksternal (eksternal adaptation)
e). Aspek Integrasi internal (internal integration)
sebagai proses penyatuan budaya melalui asimilasi dari budaya
organisasi yang masuk dan berpengaruh terhadap karakter anggota.
Selangkah lebih maju tinjauan dari Dr.Bennet Silalahi yang melihat budaya kerja dapat dilihat dari sudut teologi dan deontology (Silalahi, 2004:25-32) seperti pandangan filsafat Konfutse,
etika Kristen dan prinsip agama Islam. Kita tidak memungkiri pengaruh
tiga agama ini dalam percaturan peradaban dunia timur bahkan manajemen
barat sudah mulai memperhitungkannya sebagai manajemen alternatif yang
didifusikan ke manajemen barat setelah melihat kekuatan ekonomi Negara
kuning seperti Cina, Jepang dan Korea sangat kuat. Perimbangan kekuatan ras kuning Asia yang diwakili Jepang, Korea
dan Cina tentu saja tidak bisa melupakan potensi kekuatan ekonomi
negara-negara Islam yang dari jumlah penduduknya cukup menjanjikan untuk
menjadi pangsa pasar mereka.
Tinjauan ajaran Islam membagi budaya kerja kedalam beberapa indikator antara lain :
a) Adanya kerja keras dan kerjasama (QS. Al-Insyiqoq : 6, Al-Mulk : 15, An-Naba : 11 dan At-taubah : 105))
b) Dalam setiap pekerjaan harus unggul/professional/menjadi khalifah (An-Nahl : 93. Az-Zumar : 9, Al-An’am : 165)
c) Harus mendayagunakan hikmah ilahi (Al-Baqoroh : 13)
d) Harus jujur, tidak saling menipu, harus bekerjasama saling menguntungkan.
e) Kelemah lembutan.
f) Kebersihan
g) Tidak mengotak-kotakan diri/ukhuwah
h) Menentang permusuhan.
Sedangkan menurut ajaran konghucu budaya kerja ditinjau dari budaya Ren yang terdiri dari lima sifat mulia manusia antara lain :
a) Ren (hubungan industrial supaya mengutamakan keterbatasan, kebutuhan dan kualitas hidup manusia)
b) Yi (tipu
muslihat, timbangan yang tidak benar, kualitas barang dan jasa supaya
disngkirkan atau dibenarkan agar tidak merugikan para stakehoulder)
c) Li (Instruksi kerja, penilaian unjuk kerja, peranan manajemen harus dilandaskan pada kesopanan dan kesantunan)
d) Zhi (kearifan
dan kebijaksanaan dituntut dalam perencanaan, pengambilan keputusan dan
ketatalaksanaan kerja, khususnya dalam perencanaan strategi dan
kebijakan)
e) Xing (setiap manajer dan karyawan harus saling dapat dipercaya)
Lebih jelas lagi diungkapkan oleh Desmond graves (1986:126) mencatat sepuluh item research tool (dimensi kriteria, indikator) budaya organisasi yaitu :
Lebih jelas lagi diungkapkan oleh Desmond graves (1986:126) mencatat sepuluh item research tool (dimensi kriteria, indikator) budaya organisasi yaitu :
1. Jaminan diri (Self assurance)
2. Ketegasan dalam bersikap (Decisiveness)
3. Kemampuan dalam pengawasan (Supervisory ability)
4. Kecerdasan emosi (Intelegence)
5. Inisatif (Initiative)
6. Kebutuhan akan pencapaian prestasi (Need for achievement)
7. Kebutuhan akan aktualisasi diri (Need for self actualization)
8. Kebutuhan akan jabatan/posisi (Need for power)
9. Kebutuhan akan penghargaan (Need for reward)
10. Kebutuhan akan rasa aman (Need for security).
Penutup
Dari
uraian diatas bahwa peningkatan kualitas kinerja seorang penididik bisa
dilakukan dengan memperhatikan kepuasan kerja secara intensif baik
kepuasan intrinsik maupun kepuasan ekstrinsik dan memperbaiki budaya
organisasi yang hanya berorientasi tugas semata dengan menerapkan budaya
kerja yang berorientasi kinerja, persaingan, yang di sinergiskan dengan
upaya re-inveting organisasi dan pengembangan jenjang karier secara
berkala atau memperbaiki budaya organisasi yang berpola paternalistik
dengan budaya organisasi berpola profesionalisme.
Sehingga
para pendidik memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan secara
langsung kepada rekan kerja ataupun kepada pihak pimpinan mengenai
hal-hal yang menjadi hambatan psikologis dan komunikasi yang berhubungan
dengan pemenuhan kebutuhan baik instrinsik maupun ekstrinsik dan pihak
pimpinan senantiasa memperhatikan dan memegang teguh prinsip keadilan
dan humanitas dalam pengembangan diri dimasa yang akan datang.
Agar
membentuk kesadaran untuk tetap meningkatkan semangat dan budaya kerja
yang inisiatif, kreatif dan penuh inovasi dan pihak pimpinan akademisi
atau institusi dapat mengembangkan budaya terbuka dan
dorongan terhadap seluruh aktifitas akademis yang didukung oleh adanya
penghargaan, pengakuan dan bersifat reaktif dan pro-aktif terhadap
permasalahan akademis maupun non-akademis yang terjadi dikalangan
pendidik yang sebenarnya bisa berakibat menurunnya citra dan semangat kekeluargaan antara pendidik dengan pihak pimpinan akademisi..


0 komentar:
Posting Komentar