A. Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi bukan barang baru di dunia seni. Kelompok musik Bimbo, misalnya, mereka sangat ekspresif menyanyikan puisi-puisi Taufiq Ismail atau Wing Kardjo. Sebut saja puisi Dengan Puisi Aku ciptaan Taufiq Ismail telah berhasil disenandungkan dengan baik tanpa mengubah makna puisi tersebut. Atau puisi Salju karya Wing Kardjo yang begitu manis dengan iringan dentingan gitar dan sedikit orkestrasi gaya
khas Bimbo. Beberapa tahun kemudian muncul Ebiet G Ade yang mengusung
puisi-puisi ciptaannya ke dalam bentuk-bentuk melodi baladis. Masih
banyak lagi tokoh-tokoh musik yang memusikkan puisinya seperti : Yan
Hartlan dan Rita Rubi Hartlan, juga Uli Sigar Rusady.
Tentu
saja tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan. Puisi-puisi yang
bertipografi tertentu tidak bisa dibangun melodi. Dalam hal ini Rene
Wellek dalam Teori Kesusastraan menyebutkan, melodisasi puisi (penggunaan notasi) sulit diterapkan pada puisi yang mirip percakapan, pidato. Puisi Cintaku Jauh Di Pulau dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu tersebut di atas memungkinkan untuk dibangun melodi karena terdiri dari bait-bait dengan jumlah baris yang berpola. Pola pembaitan tersebut memudahkan komposer (penyusun musik) untuk membagi-bagi ke dalam pola birama tertentu.
Musikalisasi
puisi acap kali diartikan sebagai teknik pembacaan puisi dengan iringan
orkestrasi musik baik yang sederhana maupun orkes ansambel atau
simponi. Musikalisasi puisi pada praktiknya baru sampai pada tahap
mengiringi pembacaan puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar,
piano, dan alat ritmik yang lain. Memang ada sebagian dari mereka sudah
menyanyikannya namun belum disusun dalam bentuk teks lagu.
Sedangkan
musikalisasi yang sebenarya (melodisasi puisi) dalam konteks ini sudah
merupakan kegiatan menyanyikan puisi total dengan
memberi melodi, pola ritme, pemilihan jenis tangga nada, hingga
pemberian rambu-rambu dinamik dan ekspresi pada puisi tertentu. Pada
praktiknya, kegiatan menyanyikan puisi ini lebih menarik diterapkan pada
sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Kegiatan
musikalisasi puisi jenis ini ternyata diminati mereka yang ingin
menggunakan cara lain dari sekadar membaca puisi. Anak-anak usia SD
hingga SMU, dari tahap pengkhayal hingga tahap realistik sudah dapat
diajak menyanyikan puisi, tentu saja dengan tidak
menghilangkan otoritas puisi sebagai suatu karya seni. Otoritas puisi
sebagai salah satu karya seni harus tetap dijaga, sehingga makna yang
terkandung di dalamnya tetap utuh, tidak bergeser.
B. Mengapa Puisi Dinyanyikan?
Jika
kita mencermati lagu-lagu anak-anak muda masa kini, dengan tidak
mengabaikan proses kreatifitas mereka, kita dihadapkan pada
ungkapan-ungkapan yang serba sederhana, polos dan vulgar. Menangkap
syair dalam lagu mereka hampir tidak memerlukan energi untuk menafsirkan
makna. Yang penting bagi mereka adalah pesannya capat sampai pada
sasaran. Musik rap adalah satu contoh bagaimana
kata-kata disusun secara sederhana, tidak perlu melalui proses
kontemplasi terhadap nilai-nilai estetis. Perenungan terhadap nilai
estetis itulah yang kita harapkan bisa menambah wawasan berkesenian,
sekaligus sebagai sarana apresiasi terhadap suatu karya seni. Dari
sinilah siswa dapat menghargai karya seni dan mempunyai kepekaan
terhadap sesuatu yang indah.
Jika
hal ini dapat diterapkan, tidak sia-sia FX. Soetopo dan RAJ. Soedjasmin
membuat komposisi untuk dua puisi Chairil Anwar tersebut. Masalah yang
dihadapi kemudian adalah, bagaimana tanggapan sastrawan khususnya
penyair, terhadap gagasan melodisasi puisi ini. Pro dan kontra selalu
terjadi terhadap sesuatu yang belum pernah dicobakan. Lazim atau tidak,
setuju atau menolak, yang jelas tidak semua penyair mencak-mencak ketika
puisinya menjadi populer ketika dinyanyikan.
Ketika seorang Ebiet G Ade menyanyikan puisi-puisinya dan laris di
pasaran kaset, L. Tengsoe Tjahjono berpendapat lain terhadap proses
kreatif ini. Toh Ebiet, Bimbo, dan Taufiq Ismail tetap berjalan
beriringan. Segi intrinsik dan otoritas puisi sebagai karya sastra tidak
akan terganggu sebagaimana yang diutarakan pengamat sastra tadi. Jika
ada cara lain yang lebih menarik dan diminati siswa dalam mengapresiasi
puisi, mengapa tidak dicobakan dalam pembelajaran apresiasi sastra
khususnya puisi. Uraian ini sekadar mencari alternatif lain cara
mengapresiasi puisi disamping cara yang sudah biasa dilakukan seperti
pembacaan puisi dan berdeklamasi.
C. Manfaat Yang Diperoleh
Musikalisasi
puisi yang dimaksud pada buku ini bukan sekadar membacakan puisi dengan
diiringi permainan musik seperti kebanyakan orang melakukannya, tetapi
sudah melibatkan penggunaan unsur-unsur musik antara lain : melodi,
irama/ritme, harmoni, yang diwujudkan dalam bentuk lembaran musik
(partitur).
Untuk
lebih memudahkan penyampaian kepada siswa dan guru yang tidak terbiasa
membaca notasi balok maupun angka, guru bisa memanfaatkan kaset rekaman
yang mudah di dapat. Guru bersama-sama siswa tentu akan lebih mudah
melakukan apresiasi puisi dari media tersebut dibandingkan sekadar
membacakannya. Untuk melengkapi bahan apresiasi, guru bisa mengumpulkan
media serupa yang diambil dari kaset lagu-lagu Bimbo, Ebiet G Ade, Rita
Rubbi Hartlan, dan lain-lain.
1. Bentuk Karya
Bentuk
fisik karya Musikalisasi Puisi ini ada 2 (dua), yakni teks lagu
(partitur) dan media Compact Disk (CD) atau kaset yang berisi rekaman
puisi yang dibacakan dan dilagukan.
a. Partitur
musik : adalah teks lagu yang berisikan puisi-puisi yang diaransemen ke
dalam bentuk lembaran musik yang berupa : melodi, irama/ritme, dan
harmoni, (teks terlampir)
b. Compact
Disk atau kaset rekaman : adalah hasil rekaman pembacaan puisi dan
nyanyian yang diambil dari puisi yang sudah dibacakan.
Kedua bentuk fisik tersebut akan sangat membantu baik guru maupun siswa dalam mengapresiasi sebuah puisi.
Karya ini bermanfaat tidak saja bagi siswa dan guru, tetapi juga bagi komunitas pencinta sastra khususnya apresian puisi.
2. Manfaat bagi siswa
a. mudah menghafal puisi mulai dari pembaitan hingga tipografi puisi,
b. mudah memahami isi puisi dari penggunaan tangga nada dan pola ritme,
c. memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih cara yang paling mudah untuk mengapresiasi puisi,
d. memberikan tambahan khasanah lagu baru di samping lagu-lagu yang sudah biasa dinyanyikan,
e. mengajari siswa untuk menhargai karya orang lain,
f. mengajari siswa untuk bersikap positif,
3. Manfaat bagi guru
a. memudahkan guru untuk mengajarkan pembelajaran apresiasi puisi,
b. memberikan variasi pilihan/alternatif pembelajaran puisi di kelas,
c. memancing guru untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sastra dan Bahasa Indonesia pada umumnya,
d. memperkaya khasanah lagu bagi guru,
4. Manfaat bagi pencinta/apresian
a. memberikan pilihan alternatif bagi apresian untuk mengapresiasi puisi,
b. memancing kreativitas para pencinta sastra untuk mengembangkan daya imajinasinya,
5. Dampak/Pengaruh Yang Diharapkan
Dampak dan pengaruh yang ditimbulkan dari mengapresiasi karya sastra ini adalah :
1. Bagi siswa :
Ø siswa lebih menyenangi pembelajaran sastra,
Ø terbentuknya sikap dan moral siswa untuk menghargai karya orang lain, menghargai alam ciptaan Tuhan, mencintai kedamaian, dll,
Ø siswa mendapatkan pengalaman baru dari mengapresiasi puisi,
2. Bagi guru :
Ø guru lebih kreatif dalam memberikan pembelajaran apresiasi sastra,
Ø guru lebih menyenangi pembelajaran apresiasi sastra,
Ø guru merasa lebih yakin memberikan pembelajaran di depan kelas,
Dampak
yang langsung dirasakan baik bagi siswa maupun guru adalah terciptanya
iklim yang sejuk dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang menggunakan pendekatan
komunikatif bisa langsung dirasakan oleh guru maupun siswa.
Metode
Musikalisasi Puisi ini sifatnya universal dan sangat fleksibel dalam
penerapannya. Semua jenjang pendidikan, mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA
tentulah mendapatkan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, oleh
karena itu sangat tepat jika metode ini diterapkan. Tentu saja
puisi-puisi yang dijadikan bahan apresiasi serta tingkat kesulitan
lagunya disesuaikan dengan usia jenjang pendidikan.
D. Bagaimana Metode Musikalisasi Puisi Diterapkan?
Tentu
tidak semua guru bahasa Indonesia dapat menerapkan metode ini karena
tidak semua guru bahasa bisa menyanyi apalagi mengajarkanya kepada siswa
siswa. Cara paling mudah adalah mendengarkan hasil rekaman yang berisi
puisi-puisi yang sesuai untuk diajarkan di jenjang pendidikan tertentu.
Puisi-puisi Taufiq Ismail dan Wing Kardjo yang penulis sebutkan
di atas sesuai untuk usia SMP dan SMA dengan pertimbangan bahwa puisi
tersebut mudah untuk dipahami maknanya. Hasil rekaman berbentuk kaset
sudah lama dikenal orang. Cara kedua yakni dengan melibatkan guru
kesenian yang ada untuk mengajarkan bagaimana mengajarkan membaca notasi
dan melagukannya. Tahap pemaknaan tetap dilakukan oleh guru bahasa
bersangkutan. Puisi Cintaku Jauh Di Pulau atau Aku (Semangat)
karya Chairil Anwar sudah digubah dalam bentuk lagu oleh FX. Soetopo
dan RAJ. Soedjasmin. Kedua puisi tersebut, menurut Situmorang sesuai
diajarkan untuk tingkat SMU.
Untuk
mendukung penerapa teknik musikalisasi puisi perlu sedikit penguasaan
unsur-unsur musik secara umum. Unsur-unsur musik yang dimaksud adalah :
nada, melodi, irama, harmoni, serta unsur pendukung lain seperti
ekspresi, dinamika, serta bentuk lagu.
1. Nada
Nada
merupakan bagian terkecil dari lagu. Nada (tone) dalam pengertian musik
adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian
tertentu. Nada dalam tangga nada diatonis mempunyai jarak interval
tertentu juga. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur
dasar.
2. Melodi
Nada-nada
(tone) di atas akan bermakna jika disusun secara horizontal dengan
lompatan-lompatan (interval) tertentu. Nada-nada yang disusun secara
horizontal dengan lompatan (interval) tertentu itu dinamakan melodi.
Melodi inilah yang kemudian menjadi kalimat lagu dan terdiri dari
frase-frase serta tema tertentu. Deretan melodi kemudian menjadi lagu.
3. Irama
Irama
menentukan bentuk lagu. Irama di dalam musikalisasi puisi menjadi
sangat penting untuk memberi jiwa dari puisi yang diapresiasi. Puisi
yang bersemangat seperti “Aku”-nya Chairil Anwar menjadi lebih bermakna
dengan penggunaan birama 4/4 dengan tempo sedang serta perubahan tempo
accelerando (dipercepat) dan rittardando (diperlambat). Birama (sukat) adalah (angka pecahan : 2/4, ¾, 4/4, 6/8, 9/8) yang merupakan petunjuk akan
jiwa lagu. Puisi-puisi baladis Ebiet G Ade kebanyakan menggunakan
birama 4/4, sedangkan puisi-puisi religius Taufiq Ismail digubah Bimbo
dengan birama ¾. Meskipun birama ¾ kebanyakan digunakan untuk lagu-lagu
walz, tetapi ternyata serasi dengan puisi religius dengan orkestrasi
versi Bimbo.
4. Tangga nada
Penggunaan
tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Di dalam musik
tangga nada diatonis (terdiri 7 nada pokok dan 5 nada sisipan) merupakan
tangga nada yang banyak dipakai dalam musikalisasi puisi, sedangkan
tangga nada pentatonic lebih banyak dipakai dalam seni musik tradisional
jawa (karawita) seperti macapatan. Penggunaan tangganada minor dipakai
untuk puisi-puisi atau lagu yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka,
pesimistis. Sajak “Cintaku Jauh Di Pulau”-nya Chairil Anwar sangat
sesuai dengan tangga nada minor, sedangkan “Semangat”-nya Chairil Anwar
lebih gagah dengan menerapkan tangga nada mayor yang lebih dekat dengan
jiwa optimis, gagah, berani, riang, gembira.
Lagu-lagu
yang menggunakan tangga nada mayor memang kebanyakan bersemangat,
optimistis, dan riang, sedangkan penggunaan tangga nada minor lazimnya
digunakan untuk lirik-lirik yang melankolis, pesimistis, duka, lara.
Dalam seni musik, tangga nada mayor dan minor kadang-kadang digunakan
dalam satu lagu. Lagu “Sepasang Mata Bola”, ciptaan Ismail Marzuki
merupakan salah satu contoh penggunaan tangga nada minor. Awal lagu itu
menggunakan tangga nada minor sesuai dengan lirik bait 1 dan 2,
sedangkan pada bait refrain (bait yang sering diulangi) menggunakan
tangga nada mayor.
Tangga
nada pentatonic (5 nada pokok) kebanyakan digunakan dalam seni musik
tradisional (seni karawitan). Namun demikian tangga nada ini juga sering
mewarnai penggunaan tangga nada diatonis minor, terutama laras pelog
yang memang bias disejajarkan dengan tangga nada diatonis.
5. Tempo
Tempo
menentukan karakter lagu. Tempo secara umum adalah sesuatu yang
berhubungan dengan cepat lambatnya lagu dinyanyikan (musik dimainkan).
Dalam permainan musik, tempo dinyatakan dengan tanda yang merupakan
rambu-rambu yang harus ditepati dalam menyanyikan lagu. Pengelompokan
tempo terdiri dari golongan tempo cepat, tempo sedang, tempo lambat,
serta perubahannya. Kecepatan lagu diukur dengan alat pengukur yang
disebut Metronome buatan Maelzel. Metronome ini yang akan memberikan
petunjuk seberapa cepat dan seberapa lambat lagu dinyanyikan.
6. Tempo lambat
Lento = lambat
Adagio = lambat sedang
Largo = lambat sekali
7. Tempo sedang
Andante = seperti orang berjalan
Moderato = sedang
8. Tempo cepat
Allegro = cepat
Allegretto = agak cepat
Presto = sangat cepat.
9. Tempo perubahan
Rittenuto (ritt) = dipercepat
Accelerando (accel) = diperlambat
A tempo (tempo primo) = kembali ke tempo semula.
6. Dinamik
Kadangkala
suatub lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian,
kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali
melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada
bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan
memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu. Di dalam musik, keras
lembutnya lagu ini ditandai dengan rambu-rambu dinamik, sedangkan
tanda-tandanya disebut tanda dinamik yang berupa istilah maupun tanda
(signal). Rambu-rambu dinamik itu ditulis di bagian-bagian lagu yang
memerlukan perubahan keras-lembut.
Sekadar gambaran, secara garis besar dinamik dibagi menjadi 2 bagian yakni :
a. Tanda dinamik keras :
f = forte, berarti keras
ff = fortissimo, berarti sangat keras
fff = fortissimo assai, berarti sekeras-kerasnya
mf = mezzoforte, setengah keras.
Keterangan
: batas antara forte dan fortissimo, serta fortissimo assai relatif
kecil, karena di dalam musik vocal batas dinamik tersebut tidak dapat
diukur dengan alat.
b. Tanda dinamik lembut :
p = piano, berarti lembut
pp = pianissimo, berarti sangat lembut
ppp = pianissimo possible, berarti selembut-lembutnya
mp = mezzopiano, setengah lembut.
Keterangan
: batas antara piano dan pianissimo, serta pianissimo possible relatif
kecil, karena di dalam musik vocal batas dinamik tersebut tidak dapat
diukur dengan alat.
c. Perubahan dinamik :
Perubahan
dinamik dibimbing dengan penggunaan tanda (signal) atau istilah pada
bagian lagu yang memerlukan perubahan. Tanda-tanda tersebut antara lain :
< : crescendo, berarti menjadi keras
> : decrescendo, berarti menjadi lembut
<> : meza di voce, berarti menjadi keras kemudian kembali menjadi lembut dalam satu frase,
7. Ekspresi
Ekspresi menjadi
bagian terpenting dalam menyajikan sebuah lagu. Keberhasilan
menterjemahkan karya seni musik menjadi tantangan terbesar bagi seorang
penyanyi dalam membawakan sebuah lagu. Dalam lembaran musik, ekspresi
selain timbul secara alamiah dari seorang penyanyi (internal), juga
dapat dituntun dengan tanda (signal) berupa istilah, ungkapan dalam
bahasa asing. Istilah ekspresi itu lazimnya ditulis pada bagian awal
lagu setelah tanda birama (sukat), tetapi kadangkala juga ditulis di
bagian tengah lagu yang memerlukan perubahan ekspresi. Lagu “Cintaku
Jauh Di Pulau”, karya Chairil Anwar, digubah ke dalam lagu oleh F.X.
Soetopo dengan membubuhkan tanda ekspresi Andante Con Expresivo, yang
merupakan gabungan dari tanda tempo Andante, berarti pelan, dan Con
Expresivo, berarti dengan penuh ekspresi. Tentu saja setiap lagu
mempunyai ekspresi berbeda tergantung isi/tema puisi/liriknya.
8. Harmoni
Harmoni
menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada
tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada
tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo,
dinamik, serta ekspresi lagu. Harmoni selalu dikaitkan dengan keselarasan,
keserasian, dan keseimbangan antara unsur yang satu dengan lainnya. Di
dalam musik, harmoni juga berarti keselarasan antara unsur-unsur musik.
Pada seni musik karawitan Jawa, harmoni sering dikaitkan dengan istilah
‘nges’, yaitu rasa musikal yang memadukan antarunsur, sedangkan dalam
musik umum, selain ‘nges’, harmoni juga berarti keterpaduan antara nada
satu dengan nada yang lain.
Pengertian praktis dan sederhana, harmoni
dalam musik diatonis adalah dua nada atau lebih (dwinada, trinada) pada
tangga nada diatonis dibunyikan secara bersamaan yang menghasilkan
perpaduan nada yang harmonis. Perkembangan berikutnya, gabungan
nada-nada tersebut dikelompokkan menjadi tingkata-tingkatan akor
(harmoni) yang kelak akan sangat memberi dukungan pada penyajian lagu.
Pada
praktik penyajian musikalisasi puisi, peran harmoni ini ditumpukan
kepada instrumen harmonis, seperti (yang paling ringan) adalah gitar.
Gitar merupakan alat paling sederhana dan relatif mudah dalam membentuk
harmoni dalam musikalisasi puisi. Pada tingkat yang lebih sulit dan
relatif mahal, peran gitar biasanya digantikan oleh piano, harpa, atau ansambel,
bahkan orkes besar seperti simponi. Rambu-rambu harmoni pada tulisan
musik (partitur) biasanya sudah ditulis oleh penyusun komposisi, namun
dalam musikalisasi puisi, rambu-rambu itu bukan harga mati, artinya
pelaku musikalisasi puisi dapat membuat variasi hiasan (ornamentasi)
musikal sejauh masih dalam batas wajar dan enak dinikmati dari segi
audio.
Penggunaan
harmoni manual pada piano untuk musikalisasi puisi sering kita
dengarkan pada penyajian lagu-lagu seriosa Indonesia seperti festival
pemilihan bintang radio dan televisi tahun-tahun 80-an, sedangkan Bimbo, Ulli Sigar Rusady, Ebiet G Ade, banyak menggunakan gitar dan orkestrasi.
9. Bentuk Lagu
Bentuk
lagu yang dimaksud adalah komposisi lagu secara tertulis/tekstual.
Bentuk lagu akan tergantung kepada tipografi lirik yang diikutinya.
Kalimat lagu akan disesuaikan dengan struktur pembaitan puisi yang
dimusikkan. Puisi lama seperti pantun, seloka, gurindam yang mempunyai
struktur pembaitan baku
akan lebih mudah untuk dibentuk kalimat lagu, namun bukan berarti puisi
baru dengan tipografi yang tidak jelas pembaitannya tidak bias dibuat
lagu. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bacri bahkan bias dibuat komposisi
musik.
Pada
sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar, pembaitannya
cukup membantu untuk dibuat komposisi lagu. Struktur kalimat lagu
menjadi mudah dipolakan. Sedangkan sajak “Semangat”, yang kemudian
diubah menjadi “Aku” oleh pengarangnya sendiri Chairil Anwar begitu
sulit memolakan pembaitan musik, namun demikian R.A.J.Soedjasmin,
penggubah lagu untuk sajak tersebut begitu manis dan rapi menyusun
kalimat lagunya sehingga sajak tersebut menjadi lebih bermakna ketika
dinyanyikan.
E. Tahap-tahap Pembelajaran Musikalisasi Puisi
- Tahap Pembacaan Puisi
Pada
tahap pembacaan puisi ini, siswa diajak membaca puisi secara
keseluruhan dengan memperhatikan teknik baca puisi. Salah satu siswa
diberi tugas membaca puisi dengan teknik yang sudah pernah diajarkan
dengan memperhatikan nada, irama, rima, intonasi, serta artikulasi yang
tepat. Dipilih puisi yang pendek serta relatif mudah memahami isi yang
terkandung di dalamnya. Puisi yang bertemakan pahlawan sangat disenangi
oleh anak-anak usia SD sampai SMP, ambillah contoh sajak “Karangan
Bunga” karya Taufiq Ismail atau sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto
Sudharto Bachtiar. Pengamatan guru (pengamat) dipusatkan selain pada
teknik pembacaan puisi juga pada sikap, minat, serta motivasi siswa
dalam mendengarkan pembacaan puisi tersebut. Jika terdapat kegaduhan
atau ketidakacuhan siswa berarti siswa tidak berminat terhadap teknik
seperti ini, walaupun demikian kegiatan ini harus tetap dilangsungkan.
Dalam memberikan motivasi terhadap siswa, seyogianya dihindarkan
cara-cara pemaksaan dan tugas terlalu berat karena akan semakin
menjauhkan siswa dari puisi.
- Tahap membaca nada dan melodi
Kegiatan
inti dari musikalisasi puisi adalah mengekspresikan puisi dengan
menyanyikan bait-bait puisi yang diapresiasi. Disebutkan di depan bahwa
kegiatan paling mudah dalam mengapresiasi puisi melalui metode
musikalisasi puisi adalah mendengarkannya dari kaset rekaman, VCD, atau
perangkat elektronik lainnya. Dewasa ini sangat mudah mencari rekaman
grup Bimbo, Ebiet G Ade, atau grup-grup musik lain dengan mengambil dari
internet (download), jika sulit menemukan rekaman dalam bentuk kaset.
Namun demikian, akan lebih lengkap jika kepada siswa juga disajikan teks
lagu (partitur musik) dari puisi yang diapresiasi. Dalam hal ini,
(seandainya guru bahasa Indonesia tidak terampil membaca notasi musik), dapat melibatkan guru musik yang mempunyai kompetensi di dalam membaca nada/melodi lagu.
Tahap
membaca nada/melodi ini seperti layaknya mengajarkan lagu dengan
menggunakan notasi, baik notasi balok maupun notasi angka. Karena
kepentingannya untuk menyanyikan lagu, lebih baik menggunakan notasi
angka. Selain efisien, juga mudah mengajarkannya. Baris demi baris siswa
diajak menyanyikan melodi dengan teknik solmisasi, hingga keseluruhan
lagu. Pada tahap ini akan dijumpai perubahan sikap siswa, dan pengamat
seyogianya mencatat setiap perubahan, perkembangan yang dialami siswa
(apresian).
- Tahap menyanyikan puisi
Jika
melodi lagu sudah dikuasai, tahap berikutnya adalah menyanyikan puisi
sesuai melodi. Kegiatan ini dilakukan dengan membagi dua kelompok.
Kelompok satu menyanyikan melodi, sedangkan kelompok lainnya menyanyikan
syairnya secara bergantian.
- Tahap memaknai isi puisi
Menjelang
akhir pembelajaran siswa diajak untuk mendengarkan (mengapresiasi)
puisi yang sudah dinyanyikan dari kaset rekaman (Bimbo, Ebiet G Ade,
buatan MGMP). Kemudian pengalaman apa yang diperoleh siswa setelah
mendengarkan (atau bahkan melakukan sendiri) melodisasi puisi.
E. Kendala Yang Dihadapi
Setiap
metode pembelajaran selalu dihadapkan pada masalah dalam penerapannya.
Kendala yang dihadapi dalam metode pembelajaran melagukan puisi ini
adalah tidak semua guru bisa membaca melodi. Jika demikian yang terjadi,
guru bahasa perlu melibatkan guru seni musik yang ada untuk mengajarkan
lagu, sedangkan segi pemaknaan adalah hak guru bahasa. Cara paling
mudah adalah dengan mendengarkan kaset lagu-lagu yang berisi
puisi-puisi, seperti : Bimbo dengan puisi Taufiq Ismail dan Wing Kardjo, Ebiet G Ade dengan puisi-puisinya, dan lain-lain.
Pada bagian akhir tulisan ini, penulis melampirkan teks/partitur berjudul Cintaku Jauh di Pulau,
karya Chairil Anwar yang digubah kedalam bentuk lagu oleh FX. Soetopo.
Semoga tulisan ini berguna dan bisa dicobakan di sekolah-sekolah.
F. Penutup
Untuk
memperoleh hasil yang maksimal, metode pembelajaran melodisasi puisi
ini perlu diujicobakan baik di tingkat SD, SLTP dan SMU, mulai tahap
mengkhayal hingga pada tahap realistik. Metode
ini memang memerlukan keterampilan khusus, terutama kepekaan terhadap
nilai seni atau nilai estetika dari para guru bahasa pada umumnya dan bahasa Indonesia khususnya. Penulis
juga menyadari, bahwa semua metode memang memerlukan waktu panjang
untuk bisa diterapkan, apalagi metode pembelajaran melodisasi puisi ini
masih baru dan jarang mendapatkan perhatian dari para guru bahasa
mengingat tidak semua guru bahasa mempunyai minat dan perhatian kepada
seni musik. Akhirnya, penulis berharap tulisan ini dapat memberikan
sumbangan yang berarti bagi pembelajaran sastra yang selama ini baru
mendapatkan porsi yang relatip sedikit.


0 komentar:
Posting Komentar